Sabtu, 13 Oktober 2018

Dibalik Nama Gunung Wayang

Ada banyak cerita Dibalik Nama Gunung Wayang yang tidak banyak orang tahu, bahkan penduduk setempatpun jarang yang mengetahui mengenai seluk beluk penamaan gunung yang berada tepat di atas Situ Cisanti ini.

Saat ini Gunung Wayang telah menyedot perhatian banyak kalangan, ini sangat beralasan karena ada potensi yang banyak dan apabila di kelola dengan baik akan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat, tidak hanya yang tinggal di sekitar tetapi juga kehidupan masyarakat yang ada dihilir. Tetapi kemudian ada pertanyaan "kenapa namanya Gunung wayang?"

Twahyang Dibalik Nama Gunung Wayang

Secara kasat mata orang sering menebak saja mengenai penamaan gunung ini, kemungkinan karena dari fisiknya, misalkan dilihat dari arah timur seperti dari Desa Cikembang, maka gunung ini terlihat seperti atau mirip boneka wayang yang di baringkan. Jadi banyak masyarakat disekitar bahwa penamaan gunung wayang ini karena bentuknya mirip dengan wayang.

Ada juga cerita masyarakat yang menceritakan pengalamannya ketika naik ke gunung wayang ini suka mendengar bunyi suara mirip dengan gending yang mengiringi pentas wayang. Cerita pengalaman ini bukan hanya dari generasi terdahulu bahkan saat ini pun banyak yang mengalami hal serupa. Nah, dari pengalaman-pengalaman seperti ini, banyak masyarakat yang berasumsi ini sebagai alasan mengapa gunung ini di namai dengan Gunung Wayang.

Tetapi setelah merujuk ke berbagai tulisan mengenai asal usul Gunung Wayang ternyata ada sejarah yang memang jarang terungkap, ya seperti penamaan untuk gunung yang memayungi Situ Cisanti ini

Kata "Wayang" yang disandingkan dengan kata "Gunung" di depannya dan menjadi sebutan has untuk gunung yang ada di hulu sungai Citarum ini ternyata tidak mengandung arti wayang seperti yang selam ini diasumsikan. Namun, asal kata ini di ambil dari dua suku kata yaitu "wa" yang berarti "desir angin" dan  "hyang" yang berarti dewa. Jadi bila digabungkan menjadi "wa-hyang" yang mengandung arti hembusan angin dewata.

Untuk yang pertama ini, mungkin benar juga, karena hulu sungai citarum sudah ditemukan sejak zaman kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh pada abad ke 6 atau 14 abad yang lalu, sementara seni wayang baru lahir sekitar abad ke 14-15 pada masa perkembangan Islam di Pulau Jawa.

Pastinya penamaan ini menggambarkan bahwa gunung wayang adalah wilayah pegunungan yang memiliki keindahan alam yang mempesona laksana alam para dewata. Disetiap sudutnya ada air yang mengalir tiada henti, sungai yang meliuk, danau dengan airnya yang jernih dan pepohonan rindang dengan kesejukan udara yang mengitari seluruh wilayah dimana gunung wayang berada.

Tapi ada pula yang menceritakan bahwa nama wayang ini memang diambil dari nama boneka kayu yang merupakan salah satu karya seni dari masyarakat jawa. Penamaan ini bisa jadi sebagai imajinasi masyarakat dahulu, yang ingin menyampaikan pesan, bahwa seperti halnya wayang dalam setiap gerakannya sangat bergantung pada sang dalang, begitu juga manusia, untuk menjalankan hidupnya sangat bergantung pada satu kekuatan yaitu Alloh SWT.

Salah satu pepatah karuhun sunda memesankan : "Jalma mah darma wawayangan di alam dunya teh" Manusia adalah derama pewayangan di dunia.

Tapi, bagaimanapun bisa dipastikan nama gunung wayang sudah ada sejak zaman kerajaan kerajaan sunda muncul dan melewati masa-masa kompeni belanda dan bertahan hingga hari ini.

Twahyang dibalik nama gunung wayang

Semenjak abad ke 6 berbarengan dengan awal kemunculan peradaban Islam di wilayah Arab, Sungai Citarum telah menjadi batas kerajaan antara Sunda dan Galuh. Kedua kerajaan ini merupakan kerajaan besar yang muncul ditanah parahyangan.

Wilayah kekuasaan kerajaan Galuh berada di sebelah timur sungai Citarum dengan pusat pemerintahannya ada di Karangmulya, sementara dari Citarum ke arah barat adalah wilayahnya kerajaan Sunda dengan pusat pemerintahan ada di Bogor.

Selain sungai Citarum yang menjadi batas wilayah untuk dua kerajaan ini, ada juga ciri lain yang membatasi dua kerajaan besar ini yaitu berupa Batu Nanceb dengan ukuran tinggi 2 m dan lebar 1.5 m. Sekarang Batu nanceb berada di wilayah Desa Resmitinggal. Sementara Hulu Sungai Citarum berada di Desa Tarumajaya.

Ada cerita dari masa lalu, bahwa salah satu lembah di sekitar gunung wayang yang selalu mengeluarkan airnya (Situ Cisanti) dijadikan sebagai pusat kegiatan upacara kerajaan Ngertakeun Bhumi Lamba yang berupa deklarasi bumi dan digelar setiap 3 tahun sekali.

Konon kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat sakral, karena ada aturan-aturan baku yang tidak boleh dilanggar ketika acara ini digelar.

Salah satu rangkaian kegiatan upacara ini adalah membacakan Twahyang (semacam deklarasi) yang dipimpin oleh salah satu resi guru kerajaan.

Twahyang yang dibacakan oleh resi guru ini berisi pesan-pesan amanat kewajiban memlihara alam oleh semua masyarakat sebagai bukti pengabdiannya kepada Gusti Allah swt.

Bahwa Gusti Allah Ta'ala telah menciptakan alam ini agar di rawat dan dipelihara dengan sungguh-sungguh. Dialam buana ini Gusti Allah telah memberikan kekayaan yang melimpah yang ditujukan untuk kesejahteraan umat manusia beserta makhluk lainnya. Kekayaan alam memang untuk digunakan dan diambil manfaatnya oleh manusia, tetapi bukan berarti dipakai semaunya.

Pepohonan yang tumbang atau sengaja di tumbangkan harus segera diganti dengan pohon yang baru. Bila tidak diganti, apalagi pepohonan di hilangkan sehingga gunung menjdi gundul akan mengakibatkan bencana karena tidak mampu menahan air yang nantinya bisa menyebabkan terjadinya banjir dan bencana lain yang merugikan.

Itulah isi dari Twahyang yang disebut wahyang. Dalam rangkaian acara kegiatan itu selalu diiringi dengan gending monggang yaitu gending yang dipukul secara halus bertujuan untuk lebih menekankan penjiwaan atas isi dari wacana twahyang yang dibacakan oleh sang resi guru.

Dari upacara kegiata Ngertakeun Bhumi Lamba yang dipusatkan di hulu citarum. Kemudian didalam rangkaian acaranya dibacakan Twahyang atau wahyang maka ini menjadi cikal bakal penamaan Gunung Wayang.

Itulah sekelumit dari cerita mengenai penamaan gunung wayang yang sejatinya harus dijaga dan dipelihara sebagai kekayaan yang telah diwariskan oleh karuhun di masa lalu, untuk dijadikan modal pemeliharan untuk alam gunung wayang yang indah ini.

Artikel Terkait

Berikanlah komentar Anda dengan bahasa yang sopan, santun, singkat dan mudah dipahami.
EmoticonEmoticon